A. PENDAHULUAN
Bertasawuf adalah upaya melatih jiwa dan mental dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh dunia, sehingga tercermin akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah SWT. Dengan kata lain, Tasawuf adalah kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental rohaniah agar selalu dekat dengan Tuhan.
Kekayaan teknologi yang sekarang ini mulai berkembang. Teknologi menjadi berbahaya, ketika berada di tangan orang-orang yang tidak mempunyai mental dan keyakinan agama yang belum siap. Penyalahgunaan teknologi memang sering terjadi akhir-akhir ini. Misalnya, teknologi persenjataan yang memudahkan orang untuk berbuat kekerasan dan menciptakan situasi-situasi konflik.
Kegiatan di bidang dakwah, jurnalistik, pengkajian Islam, perbaikan masyarakat, dan sosial masyarakat akan lebih efektif dan berhasil, karena didukung dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penggunaan ilmu teknologi modern seperti itu masih dikuasai oleh orang-orang yang secara moral kurang dapat dipertanggungjawabkan. Di tangan manusia yang tidak berjiwa dan bermental—materialistik, hedonistik, totaliteristik—ilmu pengetahuan dan teknologi modern memang sangat menghawatirkan.
Jika proses keilmuan yang berkembang itu tidak berada di bawah kendali agama, maka proses penghancuran pribadi manusia akan terus berjalan. Dengan berlangsungnya proses tersebut, semua kekuatan yang lebih tinggi untuk mempertinggi derajat kehidupan manusia menjadi hilang, sehingga bukan saja kemerosotan kehidupan, namun juga kecerdasan dan moral.
Karena saat ini kemerosotan moral, hampir meliputi banyak kalangan. Kalangan yang rawan merasakan kemerosotan moral adalah kalangan pemuda. Pemuda memaknai ini bukan sebagai kemerosotan moral, melainkan kemajuan zaman. Apabila zaman telah rusak karena perilaku pemuda zaman sekarang, maka yang paling utama adalah dengan memperkenalkan tasawuf, dengan begitupemuda akan bisa mendekatkan diri pada Tuhan.
Dan, jika pemuda sekarang mengenal tasawuf, maka tasawuf itu akan selalu berbuatyang utama bagi seorang hamba. Sehingga, pemuda akan merasa butuh kepada Allah, sikap selalu memberi, sikap mendahulukan orang lain, meninggalkan gengsi, dan selalu berikhtiar.
Oleh karena itu, tasawuf yang melekat dalam diri pemuda akan mengarahkan kepada insan yang bersih dari kekeruhan, penuh dengan fikiran (kearifan) menganggap sama antara emas dan lumpur, selalu beribadah hanya kepada Allah. Bagi para pemuda yang dalam dirinya telah melekat tasawuf, maka memelihara sunnah dan adab Nabi SAW adalah suatu kewajiban. Dengan kata lain, sunnah dan adab itu wajib dipelihara karena tiada jalan untuk dapat sampai kepada Allah kecuali mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan itu sebagai pertanda cinta kepada Allah SWT.
Jadi, tujuan terpenting tasawuf adalah lahirnya akhlak yang baik dan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dalam kehidupan modern khususnya kehidupan pemuda, tasawuf menjadi obat yang mengatasi krisis kerohanian manusia modern yang telah lepas dari pusat dirinya, arti dan tujuan dari hidupnya.
Ketidakjelasan atas makna dan tujuan hidup ini membuat mereka menderita penderitaan batin. Maka lewat spiritulitas Islam yang kering jadi tersirami air sejuk dan membersihkan penyegaran serta mengarahkan hidup lebih baik dan jelas arah tujuannya. Sehingga pemuda yang memiliki jiwa tasawuf, mampu menapaki roda kehidupan di dunia menuju kehidupan akhirat.
B. PEMBAHASAN
1. Pemahaman Tasawuf
Sebelum kita mengkaji tentang bertasawuf dalam kehidupan modern, sebaiknya kita harus memahami arti dari tasawuf. Dengan memahami ajaran ilmu tasawuf, kita mampu mengetahui hakekat kehidupan.
Bertasawuf bukanlah sesuatu yang tabu untuk dilakukan, sebab selama ini masyarakat menganggap ilmu tasawuf hanya dipakai oleh orang-orang pilihan. Masyarakat menganggap tasawuf tidak berguna untuk kehidupannya, karena tasawuf yang mereka artikan adalah menjauhi dunia untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, padahal dunia memang dibutuhkan oleh orang bertaswuf sebagai jembatan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.
Di dalam kehidupan masyarakat modern, terutama masyarakat perkotaan saat ini, bertasawuf sebenarnya diperlukan oleh mereka, hanya saja mereka menganggap tasawuf tidak penting dalam hidupnya. Pentingnya tasawuf dalam kehidupan masyarakat adalah sebagai penyeimbang kehidupan. Karena berdasarkan realita yang ada, kehidupan masyarakat perkotaan sudah diwarnai oleh bermacam-macam perilaku yang diakibatkan oleh penyalahgunaan kemajuan teknologi dan kesibukan aktifitas, sehingga bertasawuf dianggap tidak perlu karena tidak membawa keuntungan dalam kehidupan mereka.
Bertasawuf dalam kehidupan modern tidak sama dengan bertasawuf dalam kehidupan sebelum modern, hal ini terjadi karena kemajuan teknologi yang begitu cepat. Bertasawuf harus disesuaikan dengan kemajuan zaman, karena kemajuan zaman berhubungan dengan berlangsungnya kehidupan bertasawuf.
Bertasawuf bukanlah suatu tuntutan, melainkan kebutuhan yang dijalankan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Kebutuhan inilah yang belum dirasakan oleh masyarakat modern. Masyarakat modern menganggap kesuksesan yang diraihnya adalah upaya dari kerja keras yang dia lakukan sendiri. Padahal jika tanpa ada campur tangan Tuhan, pasti usaha juga tidak akan sukses. Kekeringan aqidah inilah yang menyebabkan tasawuf sebagai cara pendekatan diri kepada Tuhan menjadi sulit tersampaikan atau bahkan tersingkirkan.
2. Pengertian Tasawuf
Setelah kita memahami maksud dari tasawuf, maka kita harus tahu bagaimana pengertian tentang tasawuf. Pengertian tentang Tasawuf banyak diartikan oleh para ahli keagamaan islam sebagai cara menuju Tuhan dengan membersihkan jiwa. Dan orang yang melakukan tasawuf disebut dengan SHUFI.
Menurut ABUL QASIM QUSYAIRI Tasawuf adalah menerapkan secara konsekuen ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, berjuang menekan hawa nafsu, menjauhi perbuatan Bid’ah, dan mengikuti syariat ibadah.
Menurut AL GHAZALI Tasawuf adalah memakan makanan yang halal, mengikuti akhlak yang baik, perbuatan dan perintah Rasul yang telah tercantum dalam Sunnahnya.
Menurut ABU BAKAR ACEH Tasawuf adalah suatu ilmu pengetahuan untuk mencari kecintaan kesempurnaan kerohanian.
Menurut SAHL ABDULLAH AT-TUSTURY Shufi—orang yang bertasawuf adalah orang yang membersihkan dirinya dari kerusakan budi, selalu dalam renungan yang paling dalam dan menilai budi mulia itu sebagai harta yang paling berharga dari tumpukan emas dan permata.
Menurut ABDULLAH WAHHAB SYA’RANI Ilmu Tasawuf adalah suatu Ilmu Pengetahuan yang telah dilimpahkan ke dalam hati para Aulia, di saat hati mereka diterang oleh Cahaya Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.
Sebenarnya masih banyak lagi pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tentang tasawuf. Dan dapatlah diambil kesimpulan bahwa Tasawuf adalah suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah hanya untuk mencari keridhaan dari Allah SWT dengan cara meninggalkan nafsu kediriannya dan menghapus tercela dengan bimbingan cahaya-cahaya dan pengetahuan.
3. Pentingnya mangajarkan tasawuf pada anak-anak usia dini
Jika melihat pada cermin realita kehidupan modern yang tidak sesuai dengan kehidupan islami, maka saya berpikir mengapa ilmu tentang tasawuf tidak diajarkan sejak usia dini? Dilihat dari kondisi sekarang, manusia cenderung berpikir cepat, begitupun dengan anak-anak. Anak-anak pada usia sekitar 10 tahun mulai dapat berpikir secara kritis dan emosional.
Karena sejak kecil anak-anak sudah didoktrin mengenai agama, maka semakin tumbuh besar mereka mulai mampu berpikir tentang kebenaran dari doktrin tersebut. Karena hal itu pula mereka mulai bertanya-tanya tentang “Apa itu Tuhan?”, “Di mana Tuhan itu?”, “Sejak kapan Tuhan itu ada?”. Tentu jawaban yang harus sesuai dengan pertanyaan seperti itu sulit untuk diungkapkan. Namun, bagaimanapun juga anak-anak harus diberikan pemahaman tentang hakekat keTuhanan.
Ketika adik-adik saya bertanya, “Mas, apa itu Tuhan?” maka dengan keterkejutan, saya menjawab, “Tuhan itu wujud yang harus disembah, mengapa disembah? Karena hanya Dia yang memiliki kekuatan melebihi Power Rangers.” Itu hanyalah refleksi diri saya yang terkejut atas pertanyaan itu, dari itu saya berpikir ternyata anak sekecil itu mulai belajar memahami Tuhan. Mengapa tidak sekalian anak-anak mulai diajarkan ilmu tentang ketasawufan sejak usia dini? Pada saat itu saya merasa mungkin belum saatnya untuk diajarkan, biarlah nilai dasar tentang agama saja yang harus ditingkatkan pemahamannya.
Ketika saya melihat pada diri mereka tidak ada unsur ketidakcerdasan pada mereka, bahkan sebaliknya, mereka adalah anak-anak yang pandai. Saya hanya menduga bahwa mereka hanya belum mempunyai kesadaran (belum merasa perlu) akan mendapatkan pelajaran ini. Namun, saya sadar bahwa tidak harus dengan paksaan mereka bisa memahami agama, biarlah dengan kehendak dari dirinya. Mereka akan tahu hakekat Tuhan tanpa paksaan karena hanya dengan itulah mereka merasakan kebebasan memahami agama.
4. Pentingnya anak muda mengenal tasawuf
Setelah mamberikan sedikit pemahaman tentang dunia tasawuf kepada anak-anak, kalangan yang harus dikenalkan dengan tasawuf adalah kalangan anak muda dan remaja. Pada dasarnya anak muda dan remaja adalah sosok yang mencari jati diri dan memiliki jiwa yang labil, sehingga kehidupan di kalangan remaja sering dihiasi dengan kehidupan yang bersifat negatif.
Untuk mencegah sesuatu yang bersifat negatif pada remaja, sebaiknya pengenalan tentang tasawuf harus dilakukan. Dengan memperkenalkan tasawuf, diharapkan remaja bisa memiliki jiwa yang tangguh, kuat, dan memiliki rasa tanggung jawab tinggi.
Modernisasi zaman dan teknologi menyebabkan anak muda masa kini tidak mau dianggap ketinggalan zaman, sehingga mereka mempunyai rasa “gengsi” jika tidak bisa atau tidak tahu kemajuan zaman. Dalam hakekatnya, gengsi tidak berlaku pada tasawuf. Justru dengan bertasawuf kita tidak diajarkan untuk gengsi karena tasawuf mengajarkan tentang kesederhanaan dan hidup dengan keadaan apa adanya dan bukan di ada-adakan untuk ada.
Dan jika anak muda sekarang dibekali dengan tasawuf, maka tasawuf itu akan selalu berbuat yang utama bagi seorang hamba dalam setiap waktunya. Oleh karena itu, tasawuf yang melekat dalam diri anak muda akan mengarahkan pada insan yang bersih dari kekeruhan, penuh denga fikiran (kearifan) menganggap sama antar emas dan lumpur, selalu beribadah hanya kepada Allah.
Fungsi tasawuf dalam hidup adalah menjadikan manusia berkepribadian yang sholeh, berperilaku baik dan mulia, ibadahnya berkualitas. Mereka diharuskan untuk hidup sederhana, jujur, istiqomah, dan tawadhu.
Dalam kehidupan modern khususnya anak muda, tasawuf menjadi obat yang mengatasi krisis kerohanian manusia modern yang telah lepas dari pusat dirinya, sehingga dia tidak tahu lagi siapa dirinya, arti,dan tujuan dari hidupnya.
5. Menapak Jejak Tasawuf
Seseorang bisa dikatakan bertasawuf jika mengetahui langkah-langkah menjadi seorang Shufi. Dan berikut merupakan langkah-langkah yang bisa dijadikan pijakan untuk mencapai puncak tasawuf, di antaranya:
Tobat adalah koreksi diri dan menyadari akan segala kekurangan dan cacatnya. Tobat adalah langkah awal untuk membersihkan diri, baik lahir maupun bathin. Dengan pembersihan diri dari segala kesalahan dan sifat-sifat tercela, maka hijab-hijab yang membatasi diri dengan Khalik akan segera terkuak.
Qana’ah adalah menerima dengan apa adanya pemberian Allah. Qana’ah juga merupakan dasar hidup, menerbitkan kesungguhan hidup, menimbulkan energi kerja untuk mencari rizqi, jadi percaya dan ikhtiar akan takdir yang diperoleh sebagai hasil yang maksimal. Karena pada hakekatnya menurut pandangan islam, orang kaya itu bukanlah kaya harta, melainkan kaya akan hatinya juga, disertai juga dengan sifat qana’ah yang sudah menerima apa adanya atas pemberian Allah.
Zuhud dalam kalangan shufi, sangat diutamakan dan benar-benar ditampakkan dalam sikap dan tingkah lakunyapara shufi dalam kehidupan sehari-harinya. Pada hakekatnya, Zuhud adalah membelakangkan semua mata benda dunia. Dengan kata lain zuhud adalah tidak terlalu menghiraukan dunia.
Sabar adalah sifat yang membedakan manusia dengan hewan dalam hal menundukkan hawa nafsu. Sedangkan doronganhawa nafsu adalah tuntunan syahwat dan keinginan yang meminta untuk dilaksanakan. Sabar yang dimaksudkan dalam ajaran shufi adalah sifat yang dikehendaki oleh Allah SWT, dengan jalan meninggalkan ucapan yang bisa membawa adanya keluh kesah dan keluh kesah itupun lalu dibawanya kepada Ibadah.
Tawakal merupakan keteguhan hati dalam menyerahkan urusannya kepada orang lain, dan keyakinan yang demikian itu terjadi sesudah timbul rasa percaya kepada orang yang diserahi urusan tadi. Bahwa ia betul-betul mempunyai sifat kasih sayang terhadap orang yang memberikan perwakilan. Dan ia dapat membimbing terhadap orang yang memberikan perwakilan.
Pada hakekatnya, tawakal adalah menyerahkan diri, berserah diri kepada Allah setelah berusaha sekuat tenaga dan fikiran dalam mencapai sesuatu tujuan. Jadi, apabila kita mempunyai tujuan, lalu berusaha dengan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan menurut aturan dan syarat-syarat yang diperlukan, maka hasilnya tinggal menunggu keputusan dari Allah.
Ikhlash merupakan syarat utama dalam setiap amal Ibadah Umat Islam agar amalnya diterima oleh Allah. Sebab, itu merukan upaya hamba Allah untuk menunjukkan segala perhatiannya, segala gerak-geriknya, amal perbuatannya, baik lahir maupun bathin yang semata-mata hanya ditujukan kepada Allah.
Syukur adalah mengenal pemberi nikmat (Allah) dengan menyatakan (Ikrar) pada Tuhannya. Nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita terbagi antara, nikmatul ijad dan nikmat ciptaan, artinya Ia telah jadikan dan menciptakan yang dahulunya tidak ada. Dan sesudah ada, Allah telah mengirimnya dengan nikmatul Imdad, yaitu yang menyebabkan manusia akan tetap ada, ia akan kembali dan tidak akan ada lagi, seperti makanan dan pakaian.
Ridho oleh kalangan shufi diibaratkan pintu Allah yang besar, orang-orang yang telah memuliakan ridho, maka dia akan dipertemukan dengan kecintaan yang paling penuh (utama) dan dimuliakan dengan pendekatan yang paling tinggi.
C. KESIMPULAN
Dari sekian banyak penjelasan tentang perlunya tasawuf diajarkan pada anak usia dini hingga anak muda atau remaja bahkan sampai menapak jejak-jejak tasawuf, dapat kami beri kesimpulan bahwa bertasawuf hanya ada tahapan yang beberapa orang bisa melaluinya. Lihat saja bagaimana seseorang bersikap sabar, tawakal tetapi belum bisa ikhlas, itu hanyalah salah satu gambaran bahwa tahapan untuk menjadi seorang shufi tidaklah mudah, apalagi hidup dan berkembang di antara modernisasi kehidupan. Pastinya banyak pengaruh yang ditimbulkan jika beruasaha menapaki jalan sebagai seseorang yang bertasawuf.
Bisa juga saya ambil contoh tentang zuhud, zuhud seperti penjelasan saya di atas sepertinya bertolakbelakang dengan kehidupan modern saat ini. Untuk mensiasati hal itu, masing-masing pihak pasti mempunyai cara yang berbeda-beda. Andaikan apabila bertekad untuk berzuhud, itu pasti sulit sekali, di mana semuanya pasti membutuhkan sesuap nasi untuk bertahan hidup, dan andaikan berniat zuhud artinya mereka tidak lagi menghiraukan keadaan dunia dan sedikit demi sedikit mengurangi porsi makanannya, atau bahkan berusaha tidak makan sama sekali.
Tentu kondisi ini sangat berbeda dengan kehidupan di luar yang tampak berlebihan dan berkecukupan. Berzuhud dalam kehidupan modern memang tak seharusnya salalu sama denganzuhud tempo dulu. Dalam artian, zaman yang digunakan telah berganti, sehingga metode berzuhud tidak selalu sama dengan metode berzuhud masa lalu. Namun tidak juga menutup kemungkinan bahwa masih ada yang berzuhud dengan menggunakan metode masa lalu. Namun jika tidak mengikuti dengan perkembangan zaman, seakan-akan zuhud terasa Stagnan atau berjalan di tempat. Maksud saya zuhud seakan-akan tidak mencerminkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bahwa sesuai dengan perkembangan zaman.
Bisa juga saya ambil contoh tentang ikhlash, keikhlasan menurut banyak orang susah diberikan walaupun kenyataannya mudah untuk dikatakan karena pada hakekatnya, ikhlas itu timbul dari hati dan perasaan bukan dari pemikiran-pemikiran, hal itulah yang mempersulit orang-orang berbuat ikhlas. Dalam beribadah juga demikian, bahwa sebagian manusia yang beribadah masih mengharapkan pahala Allah, hal itu merupakan salah satu contoh sulitnya berbuat ikhlas meski kepada Tuhan sekalipun. Karena kesulitan itulah manusia merasa bahwa ikhlas hanya milik Tuhan.
Seperti yang saya bilang tadi bahwa manusia bisa sabar dan tawakal meskipun sulit untuk ikhlas. Hal itu memang benar seperti halnya penjelasan saya tentang ikhlas tadi yang sulit dilakukan, namun ternyata ada sebagian orang yang tidak menyadari bahwa dia menapaki jalan tasawuf, bisa kita bilang mereka mampu bersabar dan tawakal. Manusia tidak tersadar bahwa sabar selalu muncul dan menghiasi kehidupan mereka, begitupun dengan tawakal. Jadi, sesungguhnya manusia yang di kira bukan seorang ahli tasawuf (Shufi) sebenarnya tanpa disadari juga mereka sudah menerapkan jejak ketasawufan dalam diri dan kehidupan mereka.
Saya rasa masyarakat sudah sebagian menerapkan tahapan-tahapan bertasawuf, hanya saja mereka masih belum mendapatkan ridho, petunjuk dari Allah sehingga mereka masih terbayang-bayang dengan faktor duniawi. Karena kebutuhan yang mendesak pula mereka tidak mendalami tasawuf meskipun jejak-jejak tasawuf terhampar luas di sekitar kehidupan manusia.
Andaikan masyarakat modern memahami serta mengetahui bahwa jejak-jejak bertasawuf telah mereka kuasai dan ketahui, pastilah dengan mudah para ahli tasawuf mengarahkan mereka menuju ke kehidupan tasawuf yang mengejarkan tentang kesederhanaan dan menjauhkan diri dari sifat gengsi serta melakukan suatu perbuatan yang berlebihan. Sehingga dengan begitu masyarakat modern mengerti hakekat dari kesederhanaan sehingga lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Namun semua itu sepertinya sulit untuk terlaksana, atau mungkin ini hanya skenario Tuhan untuk menjadikan hidup di kehidupan yang penuh warna.
Andaikan ini memang skenario Tuhan, saya selalu berusaha sekuat diri hidup apa adanya. Namun ini bukan terlihat sepert pasrah, karena denga pasrah kita mampu berbuat yang lebih baik. Berpasrah tidak sama halnya dengan menyerah karena pasrah memang bukan berarti menyerah, karena menyerah sudah memiliki indikasi bahwa dia tidak ingin bangkit, sedangkan pasrah adalah menyerahkan semua hidup pada Allah namun tetap berusaha hingga batas kemampuannya.
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Mz, Labib. MEMAHAMI AJARAN TASHOWUF, Surabaya: Tiga Dua, 2000.
2. Al-Misriy, Badruttaman Basya. Tasawwuf Anak Muda, Jakarta: Pustaka Group, 2009.
3. Hidajati, Arini. Anak, Tuhan dan Agama, Yogyakarta: Putra Langit, 1999.
4. Yeljen, Miqdad. Globalitas Persoalan Manusia Modern, Riyadh: Risalah Gusti, 1989.
5. Nata, Abuddin. AKHLAK TASHAWUF, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.
6. Al-Kaaf, Abdullah Zakiy. Membentuk Akhlak Mempersiapkan Generasi Islami, Bandung: Pustaka Setia, 2001.
7. Mustofa, Agus. Bersatu dengan ALLAH, Surabaya: Padma Press, 2010.
8. Bahreisy, Salim. AL-HIKAM PENDEKATAN ABDI PADA KHALIQNYA, Surabaya: Balai Buku, 1984.